a. Pengertian Keju
Keju adalah makanan yang dibuat dari susu yang dipisahakan,
yang diperoleh dengan penggumpalan bagian kasein dari susu dan susu skim.
Penggumpalan ini terjadi dengan adanya enzim rennet atau dengan meningkatkan
keasaman susu melalui fermentasi asam laktat, atau dengan kombinasi kedua
teknik ini.
Sebelum abad ini pembuatan keju dianggap sebagai suatu seni
dan baru akhir-akhir ini diterapkan pengendalian secara ilimiah terhadap proses
tersebut. Terdapat berbagai jenis dan macam keju, tergantung dimana keju itu
dibuat, jenis susu yang dipakai, metode pembuatannya, dan perlakuan yang
digunakan untuk pematangannya (Buckle, 1985).
b. Manfaat Keju
Nilai gizi protein susu tidak nyata dipengaruhi oleh
pengolahan dan pematangan keju, walaupun tingkat protein dalam berbagai jenis
keju bergantung pada pengolahannya. Keju adalah sumber asam amino yang baik
terutama lisinnya. Protein keju dari dari segi gizi lebih rendah dibandingkan
protein susu, ini disebabkan oleh rendahnya kadar asam amino yang
mengandung belerang. Keju Cottage sebanding dengan protein telur utuh dalam hal
keistimewaannya sebagai sumber asam amino esensial.
c. Proses Pembuatan Keju
Tahapan dalam pembuatan keju pada umumnya sebagai berikut:
1.
Pasteurisasi
Sebagian besar keju dibuat dengan menggunakan susu yang
telah dipasteurisasi, karena hal ini akan menghasllkan produk yang lebih
konsisten dan seragam. Pasteurisasi menghancurkan bakteri pathogen yang ada
hubungannya dengan susu, tetapi juga menghancurkan organism dan enzim yang ikut
membnatu proses pematangan, sehingga pada umumnya diperlukan waktu pematangan
yang lama.
2.
Pengasaman
Susu
dipanaskan agar bakteri asam laktat, yaitu Streptococcus dan Lactobacillus dapat tumbuh. Bakteri-bakteri ini
memakan laktosa pada
susu dan merubahnya menjadi asam laktat. Saat tingkat keasaman meningkat,
zat-zat padat dalam susu (protein kasein, lemak, beberapa vitamin dan mineral)
menggumpal dan membentuk dadih.
Pengembangan
suasana asam adalah salah satu dari faktor utama dalam pembuatan keju, karen
sejumlah asam sangat diperlukan untuk pembentukan dadih yang dapat diolah.
Untuk menghasilkan keasaman susu dapat dicapai dengan memasukkan pencemar yang
berupa kultur bakteri tertentu. Untuk keju yang diolah pada suhu di bawah 37oC,
yang dimasukkan sebagai inolkular adalah kultur Streptococcus cremoris,
sedangkan keju yang diolah pada suhu 37oC digunakan kultur Streptococcus
thermophilus dan jenis Lactobacillus. Keasaman yang
diproduksi oleh fermentasi laktosa menjadi asam laktat mencegah tumbuhnya
mikroorganisme yang tidak dikehendaki, dan mempengaruhi kecepatan penggumpalan
kasein. Dadih yang terbentuk dengan cara ini bersifat lunak dan tidak dapat
diolah, serta pengembangan dadih selanjutnya memerlukan penambahan rennet.
3.
Pengentalan
Bakteri
rennet ditambahkan ke dalam susu yang dipanaskan yang kemudian membuat protein
menggumpal dan membagi susu menjadi bagian cair (air dadih)
dan padat (dadih).
Setelah dipisahkan, air dadih kadang-kadang dipakai untuk membuat keju seperti
Ricotta dan Cypriot hallumi namun biasanya air dadih tersebut dibuang. Dengan
bantuan sebuah alat yang berbentuk seperti kecapi, dadih keju dihancurkan
menjadi butiran-butiran. Semakin halus dadih tersebut maka semakin banyak air
dadih yang dikeringkan dan nantinya akan menghasilkan keju yang lebih keras.
Rennet
mengubah gula dalam
susu menjadi asam dan protein yang ada menjadi dadih. Jumlah bakteri yang
dimasukkan dan suhunya sangatlah penting bagi tingkat kepadatan keju. Proses
ini memakan waktu antara 10 menit hingga 2 jam, tergantung kepada banyaknya
susu dan juga suhu dari
susu tersebut.
Sebagian
besar keju menggunakan rennet dalam proses pembuatannya. Rennin adalah enzim
pembantuk dadih yang diperoleh dari pemisahan perut anak sapi yang masih
menyusui dan bersifat proteolotik. Namun zaman dahulu ketika keju masih dibuat
secara tradisional, getah daun dan ranting pohon ara digunakan sebagai
pengganti rennet.
4.
Pengolahan dadih
Setelah
pemberian rennet,
proses selanjutnya berbeda-beda. Beberapa keju lunak dipindahkan dengan
hati-hati ke dalam cetakan. Sebaliknya pada keju-keju lainnya, dadih diiris dan
dicincang menggunakan tangan atau dengan bantuan mesin supaya mengeluarkan
lebih banyak air dadih.
Semakin kecil potongan dadih maka keju yang dihasilkan semakin padat
5.
Persiapan sebelum pematangan
a)
Pencetakan
Saat dadih mencapai ukuran
optimal maka ia harus dipisahkan dan dicetak. Untuk keju-keju kecil, dadihnya
dipisahkan dengan sendok dan dituang ke dalam cetakan. Untuk keju yang lebih
besar, pengangkatan dari tangki menggunakan bantuan sehelai kain. Sebelum dituang ke
dalam cetakan, dadih tersebut dikeringkan terlebih dahulu kemudian dapat
ditekan lalu dibentuk atau diiris.
b)
Penekanan
Keju
haruslah ditekan sesuai dengan tingkat kekerasan yang diinginkan. Untukkeju lunak, penekanan
biasanya tidak dilakukan karena berat dari keju tersebut sudah cukup berat
untuk melepaskan air dadih. Begitupun halnya dengan keju iris, berat dari keju
tersebut menentukan tingkat kepadatan yang diinginkan. Meskipun demikian,
sebagian besar keju melewati proses penekanan. Waktu dan intensitas penekanan
berbeda-beda bagi setiap keju.
c)
Pengasinan
Setelah
keju dibentuk,dilakukan penambahan garam agar keju tidak
terasa tawar. Keju dapat diasinkan dengan empat cara yang berbeda. Bagi
beberapa keju, garam ditambahkan langsung ke dalam dadih. Cara yang kedua
adalah dengan menggosokkan atau menaburkan garam pada bagian kulit keju. Hal
ini menyebabkan kulit keju terbentuk dan melindungi bagian dalam keju agar
tidak matang terlalu cepat. Beberapa keju-keju yang berukuran
besar diasinkan dengan cara direndam dalam air garam. Perendaman keju bisa
menghabiskan waktu berjam-jam hingga berhari-hari. Cara yang terakhir
adalah dengan mencuci bagian permukaan keju dengan larutan garam. Selain
memberikan rasa, garam juga membantu menghilangkan air berlebih, mengeraskan
permukaan, melindungi keju agar tidak mengering serta mengawetkan dan
memurnikan keju ketika memasuki proses maturasi. Kandungan garam
pada janis-jenis keju
d.
Aspek Kimia Keju
Komponen nitrogen susu sapi segar, yang merupakan bahan
dasar pembuatan keju, terdiri dari 78% kasein, 5,1%- a-laktalbumin, 8,5%-
~-laktalbumin 1,7%-globulin, 1,7%- pepton dan 5%-senyawa non protein.
Kasein susu terdiri dari komponen α-kasein, β-kasein dan κ –kasein dengan
perbandingan 3:2:1. Protein-protein tersebut berkaitan dengan ion kalsium dan
anion seperti fosfat dan sitrat membentuk misel kasein yang stabil.
Kekerasan, tekstur dan flavor keju merupakan hasil
interaksi yang sangat kompleks dari unsur-unsur pembentuknya, sedangkan dadih
yang terbentuk terjadi karena peranan κ kasein yang
terdapat dalam susu. Di dalam susu κ-kasein
berperan sebagai pelindung koloid dan bertanggung jawab atas keutuhan
misel kasein. Adanya gangguan pada κ-kasein akan menyebabkan
ketidakstabilan pada keutuhan misel kasein, hal
ini merupakan tahap awal dari pembentukan
dadih susu.
Protein lain yang juga berperan dalam proses koagulasi
susu adalah protein serum, yaitu laktoglobulin dan
laktalbumin yang bersifat larut dalam whey susu. Pada
pembuatan keju, protein whey ini terkurung da1am dadih pada
saat terjadi koagu1asi, akan tetapi karena sifatnya yang 1ebih
larut da1am air, sebagian protein ini ter1epas ke da1am whey, terutama
ketika dadih dipotong atau dihancurkan. Protein yang tertingga1 da1am
dadih menjadi bagian dari tubuh keju.
e. Jenis-Jenis Keju
a. Keju Edam
Keju Edam berasal dari
Belanda, keju tradisional bulat dan berwarna kuning terang ini
biasa dilapisi dengan paraffin, rasa keju Edam ini sedikit mirip kacang dan
tidak berbau tajam. Keju edam tergolong jauh lebih lembut dibandingkan jenis
lainnya karena kandungan lemak keju Edam lebih rendah.
Keju
Edam adalah keju tipe semi-hard, rennet – curd cheese, terutama dibuat dibagian
utara negeri Belanda di kota Edam. Pambuatan keju Edam serupa dengan pembuatan
keju Cheddar, hanya curdnya tidak boleh menghasilkan asiditas dan tidak
digarami. Starter yang digunakan biasanya termasuk organisme pembentuk benang
(rope-forming). Curd yang masih hangat ditempatkan kedalam cetakan kayu dan
dilakukan pengepressan selama seminggu dan tiap hari dilumuri garam atau kehu
yang telah dipress dimasukan kedalam larutan garam selama 2 bulam. Permukaan
keju diberi warna dan dihaluskan dengan minyak linseed atau paraffin.
Keju
Edam Dibuat dari susu skim/low
fat. Berwarna kuning muda. Tekstur sedikit lunak ketika masih muda dan
berangsur menjadi kuning tua dan teksturnya menjadi keras dan kering setelah
lama disimpan. Ciri khas edam dibungkus lilin berwarna merah. Fungsinya selain
untuk mempertahankan aroma juga untuk pengawetan.
b. Keju cheddar
Nama
varietas keju Cheddar berasal dari nama sebuah desa di Inggris. Keju cheddar
merupakan keju keras yang mengalami proses pematangan. Di Amerika umumnya keju
tersebut terbuat dari air susu segar atau air susu pasteurisasi, sedangkan di
New Zaeland sebagian besar dibuat dari air susu pasteurisasi (Eckles et al,
1951).
Ciri-ciri keju
cheddar Amerika menurut National Dairy Council (1967) mempunyai tekstur halus,
konsistensi keras, bentuk kokoh, warna kuning terang jingga dengan pematangan
dua sampai dua belas bulan atau lebih.
Prinsip
pembuatan keju tergantung pada kasein yang terdapat di dalam air susu. Air susu
yang akan digunakan untuk pembuatan keju terlebih dahulu diperiksa derajat
keasamannya dan pemalsuan terhadap santan, kemudian disaring melalui clarifier
untuk mendapatkan air susu yang bersih dan kualitas yang baik.
0 komentar:
Posting Komentar